Selasa, 30 Oktober 2007

Refleksi Film The Passion of The Christ

Refleksi Film The Passion of The Christ

Politik, Agama dan Sifat Manusia

Pdt. DR. Stephen Tong

Kaset 1 Sisi A

Selamat Malam. Saudara-saudara sudah nonton film The Passion of The Christ? Yang sudah nonton coba angkat tangan! Nah, ini nonton bajakan semua ini. Heran Sekali. Negara-negara yang boleh nonton, tidak lebih banyak yang ikut refleksi yang saya pimpin dari negara-negara yang tidak boleh nonton. Sekarang arti boleh, tidak boleh, sudah tidak ada arti sesungguhnya. Karena boleh/tidak boleh itu hanya sesuatu alasan daripada daerah-daerah yang berbeda. Tetapi internet sudah membocorkan semua, download sudah begitu gampang, apalagi pembajak-pembajak sudah pinter sekali. Begitu dua hari di California dimainkan, hari ketiga di Indonesia sudah boleh dapat bajakannya. Itu namanya teknologi abad 21.

Siapa sudah nonton lebih dari dua kali, coba lihat? Ada satu orang sama saya dia sudah nonton 15 kali. Apakah kesan pertama? Kok kejam sekali ya. Menderita sungguh-sungguh, dan jiwa saya shock betul-betul, didalam sejarah ada peristiwa seperti itu. Lalu bagaimana kesanmu? Saya nggak ngerti. Kenapa begini sih? Kenapa Yesus mesti begitu? Nah, saudara-saudara, saya kira film dari Mel Gibson ini, adalah satu-satunya film mengenai sengsara Kristus yang lebih banyak memakai tenaga, jiwa dia, yang terjun untuk membikin satu film yang agung.

Banyak orang kritik film ini. Saya pun banyak point yang tidak setuju. Tapi saya percaya, siapapun yang kritik, saudara bikin film seperti itu, pasti nggak laku seperti itu. Lebih gampang mengkritik, daripada menikmati dan mengapresiasikan karya orang yang menaruh hati didalamnya.

Mel Gibson memakai 12 tahun untuk memikirkan bagaimana memproduksi film itu. Dan Mel Gibson didalam hari-hari tertentu didalam film ini, saban hari kumpul dengan orang untuk menerima Perjamuan Suci. Ini membuktikan dia bukan main-main, dia sungguh-sungguh mau bikin film dari hatinya sedalam-dalamnya. Dan, dia adalah orang yang beriman katolik, dan bukan katolik sekular, bukan katolik biasa, katolik yang imannya sebelum Vatican 2. Berarti ia masih percaya Yesus satu-satunya Juruselamat. Kalau Vatikan 2 sudah mempunyai arti selain Yesus, ada orang bisa diselamatkan diluar. Jadi dia lebih konservatif atau dikatakan dia fundamentalis.

Mengapa jamannya sudah sekuler? Jamannya sudah begitu modern, masih memerlukan satu film yang begitu konservatif? Begitu, yang disebut fundamentalis? Sehingga ada orang Perancis mengatakan, tidak perlu kita film Hollywood. Karena film Hollywood itu rendah, dangkal, tidak berbobot. Apalagi film ini, adalah film sudah menghina perkembangan, kemajuan, kebudayaan manusia selama 2000 tahun. Membawa manusia kembali kepada jamannya Yesus. Saudara-saudara, justru itulah, yang menjadi keunggulan film ini.

Film ini berbeda dengan semua film yang lain. Karena kebanyakan film bersifat entertainment, main-main, dari khayalan, imajinatif, bikin cara-cara untuk mendapat uang lebih banyak. Film ini menceritakan peristiwa yang sungguh-sungguh pernah terjadi, dengan semungkinnya, setia, jitu kepada aslinya. Maka film itu berlainan, dengan semua film yang lain. Semua film yang lain tidak lepas daripada menceritakan sifat manusia dan semua keadaan yang umum daripada kegagalan dan impian manusia.

Film ini adalah mencetuskan sesuatu rencana Allah, untuk umat yang berdosa dan bagaimana terjunkan diri didalam penderitaan manusia sehingga mendapatkan siksaan yang kejam dan mendapatkan penghinaan yang tidak mungkin diterima oleh manusia.

Film ini saya percaya bukan motivasinya cari uang, karena dengan film menceritakan satu orang disiksa dalam beberapa jam terakhir akhirnya harus menelan uang 30 juta dollar. Siapapun tidak bisa menjamin, film ini laku tidak? Dan bisa kembali uang berapa banyak? Apakah ini membangkrutkan produser? Sehingga ia akan habis uangnya. Ndak ada orang bisa jamin, ndak ada orang bisa prediksikan. Apalagi Mel Gibson ambil keputusan tidak pakai bahasa Inggris. Film apa sih, yang pakai bahasa yang nggak ada orang ngerti bisa laku? Maka untuk memungkinkan ini, dia suruh professor bahasa aramaic, untuk mendidik, mengajar satu-persatu kalimat, kepada pemain-pemain, untuk bisa berbicara dengan kelihatannya lancar. Maka daya upaya yang diterjunkan, dilibatkan, oleh produser adalah sangat-sangat besar. Saya percaya dia bukan untuk uang.

Akibatnya, dia dapat berkat besar. Didalam tiga bulan-ndak sampai tiga bulan, uang yang masuk kantongnya dia sudah lebih dari 680 juta dollar. Jadi lebih 25 kali daripada uang yang dia bayar. Katakan itu berkat Tuhan, atau katakan orang yang tidak percaya Tuhan itu, nasib, atau hal yang tidak diprediksi akhirnya, ketiban rejeki. Orang tanya dia untuk apa you dapat uang begitu banyak? Dengan bikin satu film yang mengacaukan dunia? Bikin permusuhan antara bangsa makin tajam. Hatimu sejahtera tidak? Kalimat ini diucapkan oleh seorang mantan bintang film besar sekali. Tahun ini sudah umur 87, namanya Kirk Douglas. Yaitu, papanya daripada Michael Douglas, dan yaitu mertuanya daripada Katherine Zeta Jones, yang main Chicago itu.

Saya tidak nonton semua film, saya juga jarang nonton film. Tapi untuk film ini saya sudah memecahkan record puluhan tahun tidak masuk ke dalam rumah bioskop. Saya khusus nonton The Passion of The Christ. Dan saya bukan nonton bajakan, nonton beneran. Bayar tiket beneran. Sesudah itu saya menganalisa, saya memperhatikan, dari sudut theologis, dari sudut sejarah, dari sudut seni, dari sudut filsafat, dari sudut politik, dari sudut agama, dari sudut massal, sosiologi, sudut daripada finansial, keuangan dan sudut hukum dan militer. Sehingga sebenarnya analisa ini, boleh memakai 10 jam untuk film ini. Tapi waktu tidak cukup, saya akan singkat. Dan apa yang saya ceramahkan sekarang sama tadi sore banyak yang lain, sehingga saya minta Tuhan pimpin saya.

Saudara-saudara, film ini unik. Film ini berlainan dengan semua film. Dan film ini satu-satunya film yang menginspirasikan saya harus berpidato mengenai film. Biasanya saya pidato mengenai Alkitab, ini mengenai film. Ini pidato, ini ceramah atau seminar terbuka? Seperti lain dengan kebaktian yang saya pimpin.

Saudara-saudara sekalian, hari Yesus dijual, dihakimi, diadili, dihukum, dicambuk, digeret, dan dimatikan dengan pikul salib diatas joljota, hari itu adalah disebut hari Paskah. Paskah berarti passover, passover berarti melewati. Pass, over, hari passover, paskah itu, mulai daripada jaman Musa. Yaitu pada waktu orang Israel, malam terakhir, diperbolehkan Tuhan tetap tinggal di tanah Mesir. Dan diperintahkan potong seekor domba, darahnya dicoretkan diambang pintu. Dan hari itu, engkau harus sudah pakai pakaian lengkap, ikat pinggang, pakai sepatu, baru boleh makan, makan malam. Setelah makan, tidak berhenti, tidak tunggu, berangkat tinggalkan Mesir.

Hari itu adalah hari merdeka daripada bangsa Israel. Hari itu adalah hari pembebasan dari penindasan imperialisme Mesir. Itu namanya passover. Hari itu, malam-malam, tibalah kecelakaan, tulah yang terbesar. Allah mengirim malaikat membunuh semua anak sulung, dari setiap keluarga orang Mesir. Dari istana Firaun, sampai rakyat jelata. Karena mereka tidak ada darah yang dicoretkan diatas ambang pintu. Tetapi begitu malaikat melihat ada darah domba, diatas ambang pintu, pintu itu, maka mereka melewati, itu namanya passover. Paskah. Itu namanya hari Paskah.

Dan setelah itu, orang Israel, saban tahun, pada hari itu, tutup pintu, potong domba, makan bersama, dan nyanyi lagu, lagu itu dari Mazmur 118. Di dalam Mazmur 118 ada dua ayat yang penting, satu mengatakan inilah harinya, yang Tuhan sudah tetapkan, mari kita bersukacita didalamnya. Ayat kedua yang penting, diakhir Mazmur 118, seharusnya kita membawa domba itu dan membawa ke mezbah untuk dipersembahan. Dan setiap tahun malam paskah, mempersiapkan hari esok, orang Israel menyanyi lagu itu.

Maka pada waktu Yesus Kristus makan malam terakhir dengan murid-muridnya, lalu Dia memecahkan roti membikin satu upacara sakramen, perjamuan suci. Ia memecahkan roti dan berkata inilah tubuh-Ku yang aku pecahkan bagi-Mu, ingatlah Aku senantiasa. Dan minum cawan. Saya tidak akan makan minum dengan kamu lagi sampai hari ini. Itu paskah terakhir Yesus di dunia. Lalu pergi dengan murid-muridnya menuju kepada Getsemani. Dan disitu Alkitab catat Yesus satu-satu kalinya catat Dia nyanyi. Dan itu nyanyian yang dinyanyikan Yesus menurut paskah yaitu Mazmur 118.

Maka hari ini orang Kristen katanya, hari ini, hari ini, harinya Tuhan, sedikit saya bilang orang gendeng nyanyinya. Karena itu hari tidak ulang, satu-satunya hari yaitu, hari Yesus mati. This is the day, the Lord has made it. Lets’ rejoice in it. Makna itu tidak mungkin dimengerti kalau engkau tidak kaitkan hari paskah dan Yesus sebagai domba paskah. Jadi Yesus satu-satunya mengetahui ayat itu. This is the day, the Lord has made it. I am rejoice in myself in it. Inilah harinya yang Tuhan tentukan untuk Saya mati. Nah, hari ini Saya bersukacita didalamnya. Kalau sudah mengerti ayat ini, you baru tahu, didalam film The Passion of The Christ, mengapa Kristus dijahati seperti itu. Dia sama sekali tidak benci, tidak dendam. Karena this is the day, the Lord has made it, I’ll rejoice it. Nah, ini refleksi saya pertama.

Siapapun menonton film itu nggak ngerti, kecuali dia mengerti kitab suci dan theologi seluruhnya, baru dia tahu, o ini, itulah sebabnya. Melihat orang ketawa, ndak ada artinya, mengapa ketawa? You tahu nggak? Mengapa orang dipukul? Dia tetap begitu tenang. Dicambuk, tetap tidak membalas dendam, tidak maki, dipaku diatas kayu salib, mengampuni dosa orang lain. Hanya Yesus. Sebab Dia tahu this is the day. Engkau bilang, kan malamnya? Tapi dipaku kan besoknya? Jadi dua hari kan? Bukan, satu hari. Karena orang Yahudi cara hitung hari bukan dari pagi sampai malam, orang Yahudi cara hitung hari mulai dari matahari terbenam. Berhenti pada besok matahari terbenam, itu namanya satu hari. Jadi pada waktu Yesus Kristus selesai makan, terus masuk Getsemani, Dia mengatakan this is the day. Itu permulaan matahari terbenam, Dia masuk ke Getsemani, sampai besok sore Dia diturunkan dari salib lalu dikuburkan, itu matahari terbenam lagi. Itu this is the day. Nah, ini harus dimengerti itu.

Dan kalau didalam Perjanjian Lama, cara hitung waktu dan cara mengerti waktu, itu pakai bahasa greeka, yang tenses. Yaitu modenya waktu itu ada 64 macam. Sehingga tidak ada kitab agama apapun diseluruh dunia, lebih ketat dari Alkitab. Yesus Kristus mati pada hari mulai matahari terbenam, hari paskah, sampai hari esoknya matahari terbenam dan semua tidak boleh lagi bekerja. Mereka mempersiapkan hari Sabat. Sehingga kedua perampok harus ditebang kakinya dan harus dimasukkan kuburan. Tidak boleh, karena hari Sabat sudah datang.

Nah saudara-saudara, semua ini ada dasar kitab suci yang begitu ketat. Sehingga kita yang biasanya Jumat Agung, menerima perjamuan suci, kita tidak mendalam dan kita main-main dengan agama Kristen. Kita main-main dengan iman Kristen, kita main-main dengan kitab suci. Bahkan pendeta-pendeta kalau tidak belajar baik-baik khotbahnya ngawur. Nyanyi ngawur, khotbah ngawur, maka engkau beriman ngawur. Saya sudah berkata, karena kita malas dan kita kurang mampu mengabarkan Injil.

Maka jaman ini, Tuhan Allah campur tangan sendiri, membiarkan film ini berbicara kepada ratusan juta orang yang gereja tidak mengabar Injil. Tetapi mereka nonton, tetap tidak ngerti. Dengar, tetap tidak ngerti. Jangan-jangan mereka bertobat, sebab kecuali kaum pilihan, orang yang nonton film ini, mungkin hanya tahunya kasihan sama Yesus. Terharu, ngeri loh. Begitu susah, aduh manusia kok kejam? Ini terlalu brutal, itulah Romawi. Itu menjadi penilai, penghakim, tapi bukan melibatkan diri, apakah fungsi film ini untuk membenahi iman.

Lalu setelah Yesus nyanyi, Yesus di Getsemani, itulah hari apa? Hari Allah menelanjangi sifat manusia. The day God expose His own heart, and by force expose own hearts of all people. Hari kematian Yesus Kristus adalah hari Tuhan Allah menelanjangi sifat manusia. Mengapa Tuhan menelanjangi manusia? Karena manusia berbusana menutup telanjang diri untuk menipu Allah dan menipu diri.

Tubuh manusia adalah satu-satunya benda seni yang nggak pernah bosan, adalah tertinggi seninya, dari kekal sampai kekal. Selama dunia dicipta sampai dunia kiamat. Tubuh manusia itu adalah seni tertinggi. Tetapi seni yang begitu indah kenapa harus ditutup dengan kain? Semua filsuf nggak bisa menjawab. Semua agama tidak bisa menjawab. Kecuali kembali kepada Alkitab. Karena manusia berdosa.

Jikalau ada suatu bangsa yang memperbolahkan semua orang nggak pakai pakaian saban hari, bangsa itu disebut bangsa yang tidak berkebudayaan. Maka kebudayaan sama dengan berpakaian. Itu terkait menjadi satu. Sehingga kita melihat busana adalah tanda budaya. Dan Tuhan berkata pada Hawa, “Saya mau pakaikan engkau dengan pakaian kulit, maka engkau lepas pakaian yang kau bikin sendiri, akibat merusak lingkungan. Yaitu dengan daun engkau bikin tutupan untuk menyimpan dosamu. Sekarang telanjang! Maka Saya akan pakaikan pakaian kulit untuk menebus engkau”. Itu pertamakali makna sesungguhnya mengapa ada domba paskah yang disembelih, untuk menyelesaikan dosa manusia.

Dan sesudah itu mulai sejarah penebusan Allah dan penggodaan dosa dari Setan terus berperang di dalam hidup manusia. Sehingga di dalam Taman Eden, Allah berkata, “Hei Hawa, Adam, hei ular, benih perempuan akan bermusuh dengan benih ular, dan benih ular akan bermusuh dengan benih perempuan”. Akibatnya benih ular akan meremukkan tapak kaki dari pada benih perempuan dan benih perempuan akan meremukkan kepala dari benih ular.

Berarti permusuhan rohani sebagai cosmic drama akan terus-menerus berjalan. Maka dari terang dan gelap, dari baik dan jahat, dari Allah dan Setan, akan ada peperangan sepanjang sejarah dan puncaknya adalah kematian Yesus Kristus. Itulah hari menggenapi sesuatu peperangan yang dinubuatkan di Taman Eden. Benih perempuan akan meremukkan benih ular. Yesus melalui kematian mengalahkan Setan.

Mel Gibson menyelidiki ini dan dia memasukkan ini sebagai lambang didalam filmnya pada waktu Yesus berdoa di Getsemani. Waktu Yesus berdoa di Getsemani, dipinggirnya ada seorang perempuan yang tidak ada alis, melihat terus kepada Yesus dan mengatakan kalimat-kalimat “tidak ada orang bisa menanggung dosa orang lain sedunia, jangan Kau coba-coba kira Kau bisa”. Nah, ini mewakili Setan, yang menghina, melawan dan merintangi rencana Allah. Lalu dikirimnya seekor ular datang pada waktu Yesus berdoa.

Mel Gibson dengan cara ini mengatakan bahwa ada permusuhan mulai terjadi antara benih ular dan benih perempuan. Benih perempuan, Yesus Kristus, Immanuel, inkarnasi. Benih ular, yaitu utusan daripada Setan. Hal yang tertayang didalam film Mel Gibson ini tidak tercantum didalam kitab suci, tetapi hal ini mempunyai mengandung makna theologis yang sesuai dengan kitab suci.

Setelah berdoa selesai, maka Yesus ditangkap oleh orang-orang yang dikirim daripada pemerintahan dan disetujui oleh orang-orang pimpinan agama, dibawa oleh murid Yesus sendiri. Ini menelanjangi, disini, melalui kematian Kristus malam itu, Tuhan menelanjangi apa itu agama yang tidak beribadah, apa itu politik yang bertopeng, apa itu murid Yesus yang palsu, telanjang. Semua yang berpolitik, berpakaian bagus, dinas, kantornya indah, yang beragama, bertoga, berjubah pimpinan agama, yang begitu hormat, tetapi Tuhan melihat yang simpan di dalam, yang telanjang, semua rusak.

Melalui film ini engkau boleh belajar, karena film ini bukan berdasar dari Mel Gibson, berdasar daripada Alkitab. Tuhan Allah menjadikan this is the day, the day to expose all the sin of the world, and the day to prepare a saviour to bear the burden of the sin of the world. Lihat anak domba Allah, yang menghapus dosa seluruh dunia, yang mengangkat dosa seluruh dunia, Dia adalah juruselamat satu-satunya.

Sebelum engkau menerima Kristus, engkau harus telanjang, engkau harus berani mengatakan, Tuhan, memang saya begini, seperti dibawah x-ray, buktikan engkau TBC, seperti dibawa kedokter, engkau dinyatakan segala bakteri, segala virus, segala dosa, segala kejahatan yang ada, baru diobati. Makin jujur mengenal penyakitmu, makin gampang dapat obat yang bisa menyembuhkan. Makin jelas kerusakanmu, makin engkau rendah hati minta pengampunan.

Melalui Kristus menderita, kita melihat dibelakang agama banyak kepalsuan. Yang membawa Yesus datang kepada Pilatus siapa? Adalah pemimpin-pemimpin orang Parisi, adalah pemimpin-pemimpin agama, adalah imam-imam besar. Imam besar hanya boleh satu, setelah mati diganti oleh satu lagi, tapi Injil Lukas pasal tiga mencatat, pada saat yang sama mereka mempunyai dua. Karena apa? Satu mertua, satu menantu. Itu namanya KKN.

KKN ada dimana-mana agama, pendeta mengangkat anak sendiri, mengangkat menantu sendiri, mengangkat orang relasi sendiri, untuk meneruskan dia. Karena apa? Karena harta bendanya sangat rahasia. Tidak diketahui oleh orang lain.

Semua yang kau lihat sekarang sudah tercantum didalam kitab suci. Alas, Kayafas, mengapa dua imam besar? Karena KKN. Maka Roh tidak turun atas mereka, Roh tidak turun atas Jerusalem, Roh tidak turun dalam bait Allah, Roh turun di padang belantara, kepada Yohanes Pembabtis. Dan dia berteriak kebenaran, disitu dia harus dibunuh.

Kitab suci mengatakan, yang benar dibunuh, yang tidak benar menang. Tapi kitab suci bukan cerita sementara, adalah cerita kekekalan. Maka didalam kekekalan, yang menang kalah, yang kalah menang. Yang ngerti akan nggak ngerti, yang nggak ngerti akan ngerti.

Pada waktu mereka membawa Yesus kepada Pilatus, disini agama memperalat politik. Apakah agama sering memakai politik? Sering. Agama yang mayoritas selalu memakai politik karena kekuatan mayoritasnya. Agama kalau minoritas selalu dianiaya oleh politik, karena minoritas.

Jadi kita menganalisa seluruh film ini, dengan makna-makna dalam, sesuai ajaran Alkitab. Engkau melihat ini adalah satu hari yang mencermin seluruh sejarah. Ini adalah satu manusia yang mencermin seluruh umat. Ini adalah satu hari satu malam yang mencerminkan seluruh kegelapan kebudayaan.

Kenapakah imam besar membawa Yesus kepada Pilatus? Karena mereka mengetahui Yesus terlalu baik, Yesus terlalu suci, dan Yesus berani mengatakan diri Anak Allah. Wah kalau demikian, semua yang harusnya dibawah pimpinan saya, imam besar, sekarang tidak lagi ikut saya, ikut Dia. Kalau demikian saya bisa mati. Untuk meneruskan, melestarikan kebudayaan Yahudi, satu-satunya cara musnahkan Yesus. Kalau membiarkan Yesus terus berada, satu-satunya akibat Dia akan memusnahkan kebudayaan Yahudi. Diantara kedua ini apa yang harus saya pilih? Lebih baik kita pilih tradisi kita, statusku yang dipelihara dan Dia yang dibunuh. Maka mereka membawa Yesus ke Pilatus.

Kalau mau bunuh, bunuhlah! Mengapa tidak bunuh, mesti bawa ke Pilatus? Karena waktu mereka mau membunuh, mereka yang sudah pintar hafal Alkitab, mendapatkan satu ayat, hukum ke enam. Tidak boleh membunuh. Ingin bunuh tetapi nggak berani bunuh, caranya apa? Pinjam pisau orang lain. Itu namanya agama pakai politik.

Agama memperalat politik, bawalah ke Pilatus! Tapi tidak bisa tunggu, kalau tunggu besok jam 10, Pilatus masuk kantor, lambat, mungkin terjadi situasi berubah, sekarang! Ayo Pilatus, suruh masuk kedalam kantornya! Karena yang bawa Orang ini adalah pemimpin yang tertinggi dari agama, ia harus turut. Siapa sih politikus tidak takut sama pimpinan agama? Presiden mesti dengar pimpinan NU sama Muhammadiyah, karena masing-masing puluhan juta anggotanya. Pemimpin politik tidak bisa tidak dengar kalau agama itu sudah mayoritas.

Nah, mayoritas dari agama kalau mungkin memeras politik untuk dengar kalimat mereka. Ini terjadi.

Pilatus, kami membawa Yesus.”

Ada apa bawa kesini? Waduh ribut lagi, tadi you bikin ribut, kenapa sih? Dia salah apa? Kalau Dia tidak salah besar nggak mungkin dibawa kesini.”

Jadi jawab sama tidak jawab sama tidak jawab, tidak jawab seperti sudah jawab. Tapi Pilatus bingung, Pilatus orang politikus, tahu cara main politiknya. Jadi you sudah jawab belum? Sudah jawab. Sudah jawab belum? Belum. Belum jawab apa yang saya mau you sudah jawab. Tapi sudah jawab yang you mau jawab. Itu namanya sudah tapi belum jawab.

Pilatus tanya, “dosa apa engkau mengadu Dia?”

“Kalau Dia tidak berbuat salah yang besar nggak mungkin kita bawa kesini. Jadi pasti berbuat dosa yang besar.”

“Saya tidak peduli, dosa besar/tidak besar. Pokoknya, atur sendiri! Jangan campur sama saya. Engkau mempunyai Taurat, atur Dia.”

Mereka mengatakan, “kami tidak boleh membunuh Dia.”

Gila nggak? Jawaban mereka sama tantangan Pilatus tidak relevan. Ini semua permainan kata, permainan psikologi didalam politik sama agama.

Pilatus tahu, “o kalau begini you ingin dia mati? You nggak berani bunuh maka you bawa saya? Supaya saya bunuh, gitu?”

“Iya, tapi nggak boleh bunuh kok.”

O, jadi ini pinjam pisau orang lain membunuh, itu namanya orang yang pintar. Orang pintar selalu tidak keluarkan muka sendiri, suruh orang lain. Kalau gagal, orang lain yang habis, dia belum keluar. Tapi untungnya dia yang punya, orang lain nggak punya. Itu namanya orang pintar, orang topeng. Ini pemimpin-pemimpin agama dibelakang jubah agamanya, adalah tanda Setan-setan. Orang yang paling berani berdosa adalah orang yang beragama. Orang yang paling banyak membunuh adalah pemimpin-pemimpin agama. Lebih berani daripada atheis-atheis, yang tidak mengaku ada Allah.

Lalu, Pilatus juga tidak bodoh, “engkau mau bunuh tapi tidak berani bunuh, suruh saya?” Sama. Sekarang, kalau bhiksu, nggak boleh makan daging, tapi ingin makan daging, bikin barang yang mirip daging. Sebenarnya hatinya sudah makan daging, cuma sungkan ngomong aja. Jadi agama itu banyak palsunya.

Nah, sekarang si pemimpin agama, minta dia bunuh. Tapi Pilatus tidak mau bunuh, kenapa? Kalau saya bunuh dia berarti saya melanggar hukum. Saya tidak tahu dosa-Nya apa kok, tidak dikasitahu. Kalau saya tahu dosa-Nya, saya bunuh. Tapi saya tidak tahu dosa-Nya, nggak boleh bunuh. Kalau dosa tidak besar, nggak boleh dibunuh. Kalau bunuh, mesti melanggar hukum daripada kerajaan Romawi.

“Jadi lu dosa apa sih?”

Yesus nggak mau jawab.

Maka Pilatus tanya Dia, “apakah Kamu Raja?”.

Kalau Dia mengatakan “Aku Raja”, aku bunuh. Karena kalau Dia Raja, berarti Dia melanggar hukum Romawi. Di dalam Romawi hanya satu kaisar, nggak ada raja lain. Raja lain semua itu dia appoint, semua ditunjuk oleh kaisar Romawi, nggak boleh engkau mengaku raja sendiri.

“Engkau Raja?”.

Yesus tanya, “yang ngomong kamu atau orang lain?”.

Yesus nggak jawab langsung, bikin Pilatus lebih bingung lagi. Jadi Pilatus bagaimana hebat, sampai di tengah orang Yahudi baru tahu kurang hebat sama orang Yahudi.

“Jadi kamu seorang Raja?”

“Saya, kerajaanku bukan di dunia ini”.

Ini, peristiwa ini, dikaitkan dengan filmnya Mel Gibson, saya bisa bicara 20 jam. Saya tidak ada waktu. Dan saudara dengar baik-baik.

Maka Pilatus tidak mungkin tanya “Engkau Anak Allahkah?”. Itu bidang agama, nggak ada hubungan dengan politik. Kayafas, tidak mungkin tanya, “Engkau Rajakah?”. Itu bidang politik, nggak ada kaitan dengan agama. Jadi agama membereskan hal agama, pakai kemahiran, pengetahuan komprehensif dari agama untuk menyelesaikan orang yang melanggar hukum agama. Politik memakai kemahiran, pengertian politik untuk menyelesaikan orang yang melanggar hukum politik. Sehingga politik, “he.. he.. he.. he..”, pura-pura menghormati agama, kalau bisa diperalat. Orang agama ketawa-ketawa, pura-pura menghormati politik, kalau bisa menelan politik.

Sehingga pada waktu Romawi melihat satu-satunya bangsa yang paling sulit diatur, ditaklukkan dan dikuasai, adalah orang Israel. Orang Yahudi adalah satu-satunya bangsa diantara seluruh kerajaan Romawi, yang paling sulit ditaklukkan. Maka kepala pusing berpuluh-puluh kali, pada waktu orang Romawi datang kepada tanah Yudea. 160 tahun yang lalu, satu keluarga dari Yudha Maghapius, sudah berperang melawan tentara Romawi, sampai jenderal, tentara, mati di tanah Yudea begitu banyak. Kaisar marah tapi nggak bisa apa-apa. Karena memang ini satu negara, satu bangsa yang lebih membangkang dari Aceh.

Jadi bagaimana sekarang? Kaisar mengatakan, “kirim Pilatus pergi Yudea!”. Karena Pilatus paling kejam. Di film itu Pilatus seperti orang baik ya? Nggak, pura-pura itu. Pilatus itu paling kejam. Dia bisa campur darah manusia ke darah binatang untuk disembahkan kepada dewa. Ini orang jahat luar biasa. Pilatus yang kirim, lalu suruh Herodes jadi raja. Loh, Herodes kan tidak syarat? Tidak ada syarat tiga: pertama bukan orang Yahudi, mana bisa jadi raja Yahudi? Kedua, Herodes bukan suku Yehuda, mana boleh jadi raja Yahudi. Ketiga, dia bukan keturunan Daud. Kaisar bilang, “tidak peduli, saya mau menetapkan siapa raja, siapa raja, nggak usah ikut peraturan mereka”.

Maka Herodes agung dijadikan raja dan disitu dia langsung mempermainkan politik. “Saya seorang yang tidak diterima oleh Yahudi, nggak apa-apa. Yahudi kan percaya Yehova, saya bangun Istiqlal. Bangun gedung besar, bangun yang paling besar, maka mereka, meskipun tidak senang saya, mereka akan mengakui saya pemimpin mereka. Karena jasa agamaku melalui politik dan kuasaku”. Itu main.

Bikin satu bait Allah yang sampai 64 tahun baru jadi, dari ambisi Herodes yang tahu dia tidak layak menjadi raja. Kalau orang jadi presiden bukan dipilih, dia tahu tidak layak tapi memang pintar. Dia ada caranya lain-lain. Saya bukan orang bodoh ya. Saya Cuma tidak mau jadi presiden saja. Saya sudah presiden di rumahku, cukup.

Saudara-saudara, lalu Herodes bangun gedung itu, dengan ambisinya, dia tahu bangunan terbesar di dunia itu pyramid. Dan pyramid pakai batu, satu batu 2500 kilo. “Saya akan bangun bait Allah untuk orang Yahudi, satu batu 5000 kilo”. Sejarah nggak ada. Di dalam sejarah dunia sampai sekarang, nggak ada bangunan yang satu batu 5000 kilo, kecuali bait Allah yang didirikan oleh Herodes. Sehingga, orang Yahudi lihat “aduh sudahlah, meskipun dia orang Esau keturunan Edom, bukan orang Yahudi, kalau Daud ada sekarang, Solomon datang lagi, juga nggak mungkin bikin bait Allah lebih bagus dari ini, yah sudahlah, biarlah dia jadi raja”.

Saat Yesus lahir, Herodes memakai agama untuk memperalat, dia antara politik memperalat agama. Pada waktu Yesus mati, imam besar memakai agama untuk memperalat politik. Saling main. Bait Allah itu begitu tinggi, sehingga orang yang naik unta dari luar Jerusalem, 25 kilometer, sudah melihat cahaya refleksi dari matahari melalui atap yang dibungkus dengan emas. Jauh lebih besar daripada monas. Tck, tck, tck, tck, tck, tck, tck. Ini bait Allah! Ini kota sion! Jerusalem! Ini bait Jehova! Ini bangunan yang paling mulia di dunia! Dengan jasa begitu besar, “sudahlah, jangan dilawan dia, meskipun agamanya sedikit lain, tapi politiknya terlalu kuat”.

Herodes karena berterimakasih kepada Kaisar Romawi yang menjadikan dia raja Yehuda, maka dia membikin satu tanggul yang masuk kedalam tengah laut, sehingga itu, pelabuhan yang dangkal tidak bisa dicapai oleh kapal yang besar, boleh berhenti ditengah-tengah laut, dan ia boleh mengirim ikan yang paling mahal, paling halus, paling enak dari laut Galilea. Dibungkus dengan es, dengan peti, dikirim sampai di kerajaan Romawi, sampai ibukota, untuk istana, itu namanya kulkas pertama di dunia.

Dia begitu pintar menjadi arsitek, sehingga dia bisa bikin istana yang tidak pernah ada di dunia, sembilan susun dibawah tanah. Sehingga atasnya dibungkus dengan pasir, kelihatan begitu kecil, tapi didalamnya sembilan susun, tanpa beton, tanpa besi. Herodes bikin Herodeon, sampai sekarang orang kagum. Dia arsitek, arsitek yang culse, dia pinter luar biasa, tapi bukan pilihan Tuhan. Lalu, istana Herodes itu, pada musim panas, dingin sekali karena dibawah tanah. Pada waktu musim dingin, hangat sekali karena dibawah tanah. Itu air conditioning pertama di dunia.

Dia bikin lagi tiga kamar, tiga susun dibawah dari ujungnya dari pada masada, satu dataran diatas gunung yang tinggi sekali. Dan dia menyimpan gundiknya di kamar susun paling bawah, nyonyanya cari setengah mati, nggak ketemu, gundiknya dia. Dia bikin tiga menara di dekat pintu gerbang Jerusalem, dan menara ini kelihatan saling berdiri dengan keadaan independent. Padahal bawah tanahnya ada lowongan, kalau dia mau diatangkap disini, dia lari kesini, nggak ada orang tahu.

Ini orang hebat luar biasa, dan karena kota Jerusalem kota pemberontak, kota Jerusalem kota dendam, kota Jerusalem kota membunuh nabi, kota Jerusalem kota yang berani melawan Romawi, maka seluruh kerajaan Romawi, satu-satunya kota yang memerlukan tentara untuk menenangkan rakyat. Untuk menstabilkan politik, paling banyak, Jerusalem, 180.000 tentara Romawi, untuk satu kota.

Setiap tahun tiga kali, orang Israel dari semua kota dan desa datang ke Jerusalem menyembah kepada Tuhan. Hari Paskah dan hari-hari raya yang lainnya, hari agama, tentara-tentara Romawi dengan tegang, dengan gentar menjaga, kalau pemberontak terjadi, selalu paling kejam dan paling jahat di sini. Sehingga Kaisar memberikan peringatan kepada Pilatus, “sudah dua kali pengaliran darah di daerah Israel, di dalam tanah Yudea. Jikalau kali ketiga ada pemberontak lagi, saya mau lihat bukan darah mereka, darah kamu”. Itu yang bikin sekarang, Pilatus, gentar melihat Yesus dibawa kepada dia.

Nah saudara-saudara, kalau engkau cuma nonton film itu, tidak mengerti apa ini, engkau tidak mengerti betul-betul. Pada waktu Yesus dibawa kepada Pilatus, Pilatus tahu, cilaka! “Ini kali begitu banyak pemimpin paling besar dari agama datang mau mengadu orang ini. Dan kalau saya tidak baik-baik mengatur, ini akan akhirnya mencelakakan saya sendiri. Dan saya dijepit oleh agama-politik, dan belakangnya adalah Kaisar yang lebih tinggi dari saya. Meskipun saya sekarang orang paling tinggi kuasanya di tanah Yudea, tetapi dibelakang saya masih ada satu yang lebih tinggi”.

Dan dia tidak tahu dibelakang lebih tinggi lagi ada lebih tinggi, lebih tinggi lagi, Setan, dan diatas Setan masih ada Allah, dia tidak lihat. Orang biasa cuma lihat lapisan pinggir, dan dia nggak lihat lapisan belakang, tidak lihat lapisan atas, tidak melihat lapisan tahkta Tuhan Allah. Theolog yang sungguh, lihat dari situ! Manusia yang hanya tahu profitnya dari sini, ngerti nggak ngerti sudah.

Saudara-saudara, maka pada waktu Yesus dibawa ke Pilatus, Pilatus akhirnya harus mendengar dari kalimat Yesus kalau Dia Raja.

Tetapi Yesus mengatakan, “Raja untuk kebenaran”.

Dia bingung, “apa itu kebenaran?”.

Setelah Dia mengatakan kebenaran, maka nyonya Pilatus datang bicara tentang Dia. “jangan sembarang menghadapi orang ini, karena saya kemarin mimpi buruk tentang Orang ini. Engkau jangan campur tentang Yesus, harus baik-baik, itulah kebenaran”.

“Kebenaran?”, Pilatus menjawab, “kebenaran? Tahu tidak apa artinya kebenaran bagiku?”.


Kaset 1 Sisi B

Nah, ini kalimat asli dari pada apa yang terjadi di film Mel Gibson, bicara antara Pilatus dengan istrinya. “You mesti tahu, sudah dua kali revolusi, pemberontakan terjadi, saya sulit menangani dan Kaisar memberikan peringatan, kali ketiga saya mau melihat darahmu. Bagiku itulah kebenaran yang saya sulit, saya mesti bagaimana? Maka cara terbaik, kalau saya tidak bunuh Yesus, maka agama Yahudi akan berontak. Tetapi kalau saya bunuh Yesus, pengikut-pengikut Yesus akan berontak. Sehingga sekarang, matilah gua! Saya terjepit di kedua ini, saya mendengar pimpinan agama, lalu dilawan oleh seluruh rakyat? Atau saya mendengarkan rakyat, akhirnya menjadi dituduh oleh pimpinan agama kepada Kaisar. Saya akan dibunuh”.

Dalam kesulitan seperti itu dia kelihatan mukanya muram sekali, dan di dalam film ini, Mel Gibson sungguh-sungguh sukses menemukan orang yang kesulitan mengambil keputusan dengan muka yang begitu meragukan.

Saudara-saudara, lalu saya minta saudara perhatikan, film ini harus dimengerti dengan tiga lapisan, lapisan pertama, fakta-fakta sesuai Alkitab, terima 100 persen! Lapisan kedua, tradisi-tradisi khatolik, yang dicampur aduk dengan Alkitab, jangan kamu terima! Lapisan ketiga, yang tidak ada di dalam Alkitab, mungkin terjadi mungkin tidak, tetapi itu hanya imajinasi daripada manusia, boleh kau tolak, boleh kau terima.

Misalnya, waktu Yudas sebelum gantung diri, dia berada di tempat di mana ada satu sapi yang mati di situ. Alkitab tidak tulis. Lalu Yudas waktu mau bunuh diri, ada anak-anak akhirnya menjadi berubah muka Setan. Nggak ada di Alkitab. Misalnya, waktu Yesus itu lagi dicambuk, ada seorang Setan yang membawa seorang anak kecil yang mukanya kayak orang tua noleh-noleh Yesus. Pada waktu perampok di atas kayu salib, itu ada seekor burung datang untuk mencucuk matanya dan bikin dia buta. Itu semua tidak ada di dalam Alkitab. Tapi kalau makna-makna theologinya sesuai dengan Alkitab, boleh dipikir, tapi tidak usah diterima.

Tiga lapisan ini kalau tidak dipisahkan engkau akan hanya ikut-ikut dari pada film, tapi tidak menambah iman dari pada Alkitab.

Saudara-saudara sekalian, Pilatus mengambil keputusan dan dipengaruhi oleh istrinya menurut Kitab Suci Matius adalah nyonya Pilatus nyotus. Nyonya Pilatus mengirim surat, beritahu kepada Pilatus, “Jangan campur urusan orang ini, karena kemarin malam saya mimpi sesuatu yang buruk, tolong jangan atur. Ini mungkin seorang benar, engkau hati-hati”. Tetapi dalam film ini, nyonya Pilatus muncul terus, muncul terus, lihat dari jendela, ngomong-ngomong, apalagi kasih dua handuk yang besar, untuk Maria menghapus akan darah dari Yesus. Itu semua tidak ada.

OK saudara-saudara, kalau di dalam tanya-jawab pasti kau tanya hal-hal seperti ini, tapi kalau mungkin saya sisipkan di dalam refleksi ini, jika engkau mengerti secara struktur seluruhnya. Saudara-saudara, maka Pilatus ambil keputusan karena dia tidak menemukan dosa yang fatal dari Yesus, cukup dipukul saja. Dipukul sama disalib, ini dua tahap, kalau dosanya berat sekali, dipukul. Kalau dosanya berontak kepada kerajaan dan membunuh orang, boleh disalib. Dipukul, ini hukuman yang paling keras, tapi dibunuh, ini penghinaan yang paling kejam. Disalibkan, ini penghinaan paling kejam.

Dan menurut hukum Romawi, dua-dua tidak boleh dilakukan diatas warga negara Romawi. Hanya boleh dilakukan kepada bangsa lain, karena bangsa lain tidak bernilai. Bangsa Romawi sangat tinggi harganya, bangsa lain, bangsa yang dikalahkan, yang dikalahkan dijadikan tawanan. Tawanan ditelanjangkan, lalu ditaruh di tempat pasar, dijual secara lelang. Pria ditelanjangkan, you bisa lihat spear-nya, lihat badannya berapa besar, lalu dia boleh kerja berapa berat, tawar, kalau dia orang yang gede spear-nya besar, orangnya kuat ditawar 50 juta, kalau dia kurus, tiga ribu cukup. Kalau perempuan ditelanjangin, wah, dia cantik, menggiurkan, tubuhnya begitu sexy, belilah 50, 100 juta, tapi kalau seluruh badan gepeng, sudah, nggak laku saja. Itu ditelanjangkan, dihina, tapi penghinaan terbesar, dicambuk, sampai seluruh tubuh berdarah, lebih keras lagi, dibunuh melalui kayu salib.

Nah saudara-saudara, saya percaya film tentang Yesus sudah ditayangkan-sudah dijadikan film, lebih dari pada 20 kali sepanjang sejarah abad ke 20, abad perfilman. Tapi saudara harus mengetahui dari hitam-putih tidak bersuara, sampai dari pada technicolor, sampai pada cinemascope, sampai pada itu video, dvd muncul, beberapa puluh film tentang Yesus, yang paling cocok dengan hukum Romawi adalah punya Mel Gibson. Karena dia belajar baik-baik. Dia betul-betul mengerti apa namanya dicambuk, apa namanya dipaku di atas kayu salib.

Sekarang saya membandingkan seni, dan sejarah, dan perfilman. Saya menyelidiki seni dari pada abad pertengahan, dari pada Baysancube, dari pada itu Cyoto, rennaissance, sampai kepada itu high rennaissance, Rococo, sampai kepada Baroc, sampai kepada itu jaman-jaman yang disebut itu impressionis, sampai kepada cubism, surerealism, modern, post modern, semua pelukis yang paling besar di dalam dunia barat, telah melukiskan Yesus disalib yang terkenal termasuk Cyoto, Fransesco, dari pada Ciomanni Pellini, daripada Karranags, dari pada Lippi, lalu dari pada Michaelangelo dengan ukirannya yang pikul salib-Nya Yesus, dari Velascues, dari pada Libera, dari pada Goya, dari pada orang-orang seperti Tintoritu, dan sebagainya. Saya selidiki satu-persatu, hanya dua lukisan yang cambuknya kelihatan, tetapi bekas cambukannya tidak jelas. Dan dari semua, yang dipaku di kayu salib, hanya lima tempat yang berdarah, yang lain kelihatan utuh. Kepala kena duri, dua tangan dipaku, dan rusuknya ditusuk dengan tombak, dan dua kaki yang dipaku selang-seling, lima tempat, sedangkan tubuh-Nya yang digambar, semua bagus-bagus, tetapi tidak ada cambukan yang terlalu berarti.

Satu-satunya didalam sejarah seni barat, yang melukiskan Yesus dicambuk, dengan seluruh tubuh itu sudah dikeluarkan dagingnya, karena kaitan dari pada itu seperti sengat-sengat yang bikin seluruh tubuh luka, hanya seorang Jerman yang mengerti. Namanya adalah Mathias deGrundewolth, seorang bernama Mathias dari kota namanya Grundewolth, dia melukis beberapa lukisan, kebanyakan tentang Yesus. Tentang kematian Yesus ada tiga lukisan, dua di Jerman, satu Altepis yang besar, satu di Jerman utara, dan yang satu yang agak tengah, tidak kecil tidak besar, sekarang sudah berada di art gallery, National Gallery of Fine Art in Washington DC. Disitu saya melihat beberapa kali, saya perhatikan, saya menilai, saya meng-intropeksi diri, di hadapan lukisan yang besar. Itu, tangan-Nya karena kesakitan, sehingga jarinya pluntir satu-persatu, sehingga kelihatan tidak lagi bentuk real, tetapi bentuk sesuatu ilustrasi jiwa, yang dipancarkan di dalam fisik.

Menurut filsafat kesenian, dari pada teori Leonardo Da Vinci, yang disebut seni itu adalah the action of the spirit, jiwa bagaimana beraksi, jiwa bagaimana bertindak, itu namanya seni. Dan di dalam penilaian definisi ini, standar dari pada Da Vinci betul-betul tercapai, di dalam kesengsaraan Kristus menurut painting dari pada Mathias Grundewolth. Da Vinci bisa mencetuskan kesukaan melalui senyuman orang untuk menyatakan refleksi jiwanya, tapi kesedihan belum pernah. Sedangkan Mathias Grundewolth, dalam menyatakan kesedihan manusia yang paling mendalam. Dan bagi saya, beberapa ratus tahun ini belum pernah ada orang melewati kecuali Mel Gibson di dalam filmnya, ini yang saya hormati.

Nah saudara-saudara, kedua tangan pluntir, kakinya begitu mlungker, karena sakitnya, dan urat-urat yang hijau, dengan darah yang keluar dan kering, dan kulit yang berwarna berbeda, dari luka-luka cambukan itu, seluruh badan, ada darah yang sudah menjadi beku, ada darah yang sudah menjadi coklat, itu kelihatan semua, hanya di dalam satu lukisan, satu orang, tiga lukisan, yaitu Mathias Grundewolth. Semua lukisan dari pada barat, termasuk khususnya Goya, melukiskan tubuh Kristus yang begitu sehat dan baik, tetapi utuh, kecuali lubang paku. Saya tidak menghormati terlalu mendalam. Saya juga mengajar sejarah kesenian barat, di Reformed Institute, di Indonesia saya hanya mengajar beberapa pelajaran saja.

Saudara-saudara sekalian, Mel Gibson betul-betul mempelajari apa artinya cambukan Romawi. Cambukan 40 kali, kalau lebih satu kali, yang cambuk sendiri harus dicambuk. Maka orang yang cambuk orang itu dilatih, cambukan tidak boleh kurang keras, tidak boleh terlalu keras. Dan cambukan yang paling keras, diperbolehkan kalau orang itu dianggap dosanya besar. Dan kalau 40 kali lebih satu kali, engkau sendiri melanggar hukum, engkau akan dicambuk. Maka semua orang yang mencambuk takut hitungnya kelebihan, sampai 39 mereka berhenti. Sehingga tidak mungkin sampai sendiri jatuh di dalam hukum. Itu sebab Paulus dua kali dicambuk, satu kali 40 kali, setiap kali kurang satu kali, berarti 39 kali.

Di dalam Mel Gibson, Yesus dapat cambukan dua giliran, giliran pertama dengan seperti penjalin, tapi giliran kedua dengan cambukan yang paling kejam, yaitu pakai kulit-kulit yang ekornya setiap kulit cabang itu, ada seperti satu apa itu, kaitan, sengat, sehingga dia itu akan menarik, masuk ke dalam tubuhmu, waktu ditarik untuk kedua kali, dagingnya semua melototi, semua keluar, dan darah terus mengalir. Dan Mel Gibson betul-betul belajar ini. Kalau orang mengatakan, di dalam film ini terlalu brutal, terlalu kejam, saya akan membela, ini memang cara yang benar. Cara inilah cara aslinya, sedangkan film lain dan gambar lain, kurang mengerti, kurang belajar. Maka tidak memberikan kepada kita pengertian berapa dalam sengsara penderitaan Yesus untuk dosa manusia. Sehingga di sini saya bersyukur.

Saudara-saudara, Mel Gibson tidak pakai brutalitas ini untuk mencari uang,